ASAL USUL pempek banyak dipahami KELIRU. Hal ini bersumber dari.referensi yang KELIRU, terutama yang ditulis di awal artikel di Wikipedia. Untunglah artikel ini sdh diluruskan di bagian akhir. Saya menduga kekeliruan ini dimulai dari buku kumpulan Cerita Rakyat dari Palembang (Sumsel) “ASAL MULA PEMPEK” yang ditulis oleh Purhendi Bintang dan Koko P. Bhairawa (PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2009) yang isinya sama persis dengan apa yang ditulis oleh Wikipedia.

Sayangnya asal usul ini disebarluaskan oleh media (tadi pagi disiarkan Trans TV), ditulis di dinding restoran pempek di dalam palembang ikon, pempek beringin dan mungkin ada juga di tempat lain. Mari kita cermati apa yang ditulis di Wikipedia.

“Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina sedangkan “koh”, yaitu sebutan untuk lelaki muda keturunan Cina.

??????????

Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.”

Bagian berikut mungkin sudah ada yang mengoreksinya, seperti ini: “Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Selain itu Sultan Mahmud Badaruddin baru lahir tahun 1767.

Juga singkong sebagai bahan baku sagu baru dikenal pada zaman penjajahan Portugis dan baru dibudidayakan secara komersial tahun 1810. Walaupun begitu sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan, kekian ataupun ngohyang.”

“Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.”

“Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti Tenggiri, Kakap Merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Juga sudah ada yang menggunakan ikan dencis , ikan lele serta ikan tuna putih.”

Demikian yang ditulis di Wikipedia. Kenyataan lain adalah keberadaan sagu di Palembang. Di uluan sagu disebut rembi (rembi) yang daunnya lazim dibuat atap pondok atau rumah di masa lalu.

Dikatakan singkong sebagai “sagu baru”, karena ternyata kata sagu sudah dikenal sejak lama, yakni di dalam prasasti Talang Tuo bertarikh abad ke 7. sagu merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ditanam oleh raja Sriwijaya, Dapuntahyang Srijayanasa dalam satu kawasan disamping tanaman seperti kelapa, aren, dan buah buahan lainnya. Artinya bahan baku sagu sudah dikenal sejak lama di Palembang, meskipun bahan baku pempek sekarang adalah sagu tapioka.

Menurut Dosen sejarah Unsri, Ali Mansyur yang mengutif keterangan salah seorang bangsawan palembang, di masa Sriwijaya telah ada panganan percampuran ikan dan sagu sebagai bekal pasukan sriwijaya berperang. Waktu itu katanya, menggunakan ikan tangkeleso.

Pada abad 16, bersepeda itu hal yang tidak mungkin. Selain belum ada sepeda, waktu itu Palembang belum ada daratan. Kemanapun berjalan, orang di Palembang menggunakan transportasi air seperti perahu dan kapal.

Wong Pelembang semula menyebut pempek adalah kelesan. Kelesan kerupuk, kelesan lenjer, kelesan kapal selem dll. ASAL USUL kata pempek dimungkinkan penjualnya apek-apek tetapi tentu tidak abad 16. Ingat, pempek bukan empek empek. Jika ada yang menyebutnya empek-empek dimungkinkan orang dari luar Palembang.

Pempek yang dijadwalkan (model baru) disebut model, namun ada juga tekwan, laksan dan celimpungan sebagai panganan turunan pempek. Tahun 2014 melalui usulan Balitbangnovda Sumsel, pempek sudah diakui oleh pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Oleh Vebri Al Lintani (Ketua Dewan Kesenian Palembang)

sumber : kabar sumatera